Mulya

Guru Geografi di MAN 2 Tangerang, Banten sejak tahun 2011 s.d sekarang. Aktivitas utama mendidik, selebihnya berkebun, menulis, berorganisasi, fotografi, dan me...

Selengkapnya
Sampah adalah Berlian yang Terbuang

Sampah adalah Berlian yang Terbuang

Zaman now zaman sudah semakin praktis. Bagaimana tidak hampir semua kebutuhan hidup menggunakan kemasan praktis. Bahan utama yang banyak digunakan adalah plastik. Apa sebenarnya plastik? Plastik merupakan hasil olahan dari industri petrokimia. Para ahli memperkirakan membutuhkan waktu 500 s.d 1000 tahun untuk menguraikan sampah plastik.

Sampah bisa menjadi masalah besar jika penggunaannya dan daur ulangnya tidak diatur. Bagaimana tidak, coba bayangkan jika ada 1000.000 orang membuang sampah yang sama semisal botol air mineral, maka satu ruangan kelas akan penuh dengan sampah. Sampah ini memiliki persepsi negatif, mengapa? Karena sampah merupakan barang bekas yang identik kotor dan sudah tidak hygenis. Lalu orang mencampakkannya dengan membuangnya begitu saja.

Padahal sampah memiliki nilai jual yang tinggi sesuai dengan jenisnya. Sampah dibuang tidak bernilai akan tetapi ketika dapat mendaurulangnya, sampah dapat memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Bisa diibaratkan sampah adalah berlian yang terbuang. Jika berliannya dapat diolah kembali bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Semuanya hanya masalah kemauan saja.

Banyak orang yang berhasil dengan pengolahan limbah. Sebagaimana di wilayah kawasan industri di Tangerang. Banyak pengumpul sampah yang dapat didaur ulangi dalam skala kecil dan besar. Pengumpul sampah yang dapat didaur ulang skala kecil merupakan pengumpul dari pemulung yang dijual ke lokasi tersebut. Berbeda pengumpul sampah yang dapat didaur ulang skala besar. Limbah tampungannya adalah limbah-limbah pabrik. Di Kawasan Industri Tangerang ada industri yang mengolah instalasi listrik automotif untuk kendaraan bermotor. Limbahnya adalah tembaga-tembaga sisa pada kabel yang terbuang. Itu baru satu pabrik belum lagi pabrik jenis lainnya yang memiliki limbah berupa sampah yang dapat didaur ulang.

Ada pula pabrik di Tangerang berupa pabrik besi dan baja. Berdasarkan informasi dari para karyawan bahan baku utamanya adalah besi-besi bekas yang kembali dileburkan. Hasil peleburannya menghasilkan besi atau baja yang baru dan kembali dapat digunakan.

Lalu bagaimana pada lembaga pendidikan, apakah luput dari permasalahan sampah? Kesemuanya kembali kepada kebijakan pimpinan lembaga, guru, dan para siswa. Jika saja setiap sekolah/madrasah ada kepedulian terhadap masalah sampah dapat menciptakan berbagai program seperti kurasaki (kurangi sampah disekitar sekolah kita), program bank sampah, program daur ulang sampah pada mata pelajaran prakarya, biologi, geografi, dan lain sebagainya. Targetnya jelas bagaimana sampah terselesaikan sehingga tidak menimbulkan masalah.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

search