Mulya

Guru Geografi di MAN 2 Tangerang, Banten sejak tahun 2011 s.d sekarang. Aktivitas utama mendidik, selebihnya berkebun, menulis, berorganisasi, fotografi, dan me...

Selengkapnya
Yang Gaji Kamu Siapa?
tribun timur. tribunews.com

Yang Gaji Kamu Siapa?

Zaman now peran mediasosial sangat vital. Saat forum resmi dan banyak alat yang merekam, maka ada hal yang sangat mencolok kemudian diupload didunia maya bisa viral. Viralnya karena ada persepsi yang sama warga netizen.

"Yang gaji kamu siapa? " kata ini menjadi viral karena yang menyampaikan adalah pembantu presiden. Kata itu muncul saat pada acara pemilihan media sosialisasi pemilu. Sebenarnya tidak ada yang keliru, akan tetapi memilih kalimat yang tidak tepat pada acara publik.

Yang gaji kamu siapa? Jika karyawan ditanya jawaban adalah pemilik perusahaan. Jika seorang pemberi jasa, jawabannya adalah konsumenya. Jika anak dirumah ditanya yang kasih uang jajan siapa? Jawabannya adalah ayah dan ibu. Lalu jika Aparatur Sipil Negara (ASN) ditanya, yang gaji kamu siapa?

Hal ini sangat menarik, pertanyaan tersebut ditujukan pada ASN. Sebagaimana diketahui ASN dihimbau bersikap netral walaupun ASN memiliki hak suara. Berbeda dengan pihak kepolisian dan TNI yang tidak memiliki hak suara walaupun ASN juga.

ASN di gaji oleh siapa? Jika pertanyaan tersebut diberikan kepada saya, maka saya akan menjawabnya bahwa yang memberikan gaji adalah rakyat. Rakyat adalah pembayar pajak. Negara dijalankan oleh orang-orang pilihan rakyat. Mereka mengelola negara selama 5 tahun. Periode berikutnya bisa dipilih kembali ataupun tidak. Jangan beranggapan bahwa saat berkuasa seolah menjadi pemilik negara.

Anda ASN, tetap jaga netralitas dalam bersikap dan berprilaku dalam pilihan politik kasat mata. Jika ingin tak kasat mata silahkan saja menunjukan sikap dan perilaku. Asalkan segala resiko bisa diterima dengan lapang dada.

ASN saat menenentukan pilihanya di bilik suaralah penentunya. Gunakan hati nurani dan alasan memilih siapa. Biarkan saja diri dan Allah Swt yang tahu, kita memilih siapa? Yakinlah ASN bangsa ini dapat menentukan pilihan terbaik. Aamiin.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Betul, Pak Guru. ASN digaji oleh rakyat. Karenanya, kewajiban kita mengabdi kepada rakyat bukan pada(oknum) pemerintah. Yes, jaga hak pilih. Netral, harus!!! Semoga Allah meridhoi pilihan kita, itu saja. Jazakallah khoir, Pak Guru. Salam sehat, bahagia dan sukses selalu. Barakallah.

03 Feb
Balas

Aamiin ya Allah, semoga Allah meridhoi pilihan kita. Terima kasih atas apresiasinya dan doanya. Sehat, bahagia, dan sukses selalu buat bunda Rai. Barakallah juga buat ibu Guru

03 Feb

Setuju Psk, walau saya bukan ASN, hehehe. Sukses selalu dan barakallah

03 Feb
Balas

Wah Psk, saya bukan Psk bu he..he.. Terima kasih atas apresiasinya. Sehat, bahagia. Sukses selalu. Barakallah buat ibu Pipi

03 Feb

Hadeuh ...Saya bukan ASN berarti bebas memilih ya..hi...hi...Barakallah...

03 Feb
Balas

Iya bu Rini, ASN juga bebas memilih cuma secara dukungannya jangan kentara. Cukup dihati saja he..he.. Sehat, bahagia dan sukses selalu. Barakallah buat bu Rini

03 Feb

Viral yang menunjukan sempitnya pemikiran seorang pejabat ya pak. Walau ASN netral, tapi kita punya hak pilih. Dan pilihan itu insya allah sudah ada. Sehat sukses selalu pak. Barakallah

03 Feb
Balas

Iya bu. Terima kasih atas apresiasi dan doanya. Sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah buat ibu.

03 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali