Mulya

Guru Geografi di MAN 2 Tangerang, Banten sejak tahun 2011 s.d sekarang. Aktivitas utama mendidik, selebihnya berkebun, menulis, berorganisasi, fotografi, dan me...

Selengkapnya
Waspada Faktor Pemicu Disintegrasi Bangsa Indonesia
VOA.Islam

Waspada Faktor Pemicu Disintegrasi Bangsa Indonesia

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya berbagai potensi alam. Bagaimana tidak, potensi maritim (kelautan) sungguh luar biasa. Sebagai negara kepulauan dengan luas wilayah laut yang dominan dibandingkan daratan, perbandingan 2/3, potensi laut Indonesia dari Sabang sampai Merauke sungguh luar biasa, apakah laut nusantara, teritorial, maupun Zona Ekonomi Ekskusif (ZEE). Potensinya terdiri dari pertambangan minyak bumi dan gas alam lepas pantai, aneka biota laut, energi laut, potensi olahraga luat, keindahan bawah laut, dan potensi lautnya, serta merupakan negara dengan garis pantai terpanjang di dunia.

Apakah hanya potensi Indonesia hanya sampai disitu? Tentu saja tidak, Indonesia kaya akan sumber daya alam karena Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng dunia (Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik) berupa konvergen (tabrakan lempeng), dimana lempeng Indo-Australia dan Pasifik menghujam ke daratan Indonesia (lempeng Eurasia) dan mengangkat lapisan bumi Indonesia ke permukaan, potensi pertambangan dalam bumi Indonesia terangkat kepermukaan. Siapa yang tidak mengenal pertambangan emas terbesar dalam sejarah yaitu PT. Freeport yang dimiliki oleh Amerika Serikat ada di Indonesia. Sangat disayangkan memang potensi pertambangan tersebut tergali oleh pihak asing. Bagi pemerintah Indonesia melalui BUMNnya sendiri masih banyak potensi pertambangan yang belum teroptimalkan.

Selain kaya akan sumber daya pertambangan masih karena adanya pertemuan lempeng tersebut, Indonesia memiliki morfologi bergunung-gunung dan terdapat banyak gunung api. Selain menciptakan pemandangan alam nan eksotik, abu-abu vulkanis akibat letusan gunung api membuat tanah Indonesia begitu subur, belum lagi lumpur-lumpur sungai yang mengendap akibat erosi, mengakibatkan tanahnya juga begitu subur.

Kesemua itu disempurnakan dengan kenyamanan iklim tropis dengan dua musim yaitu hujan dan kemarau yang selalu mendapatkan sinar matahari yang cukup. Keanekaragaman hayati Indonesia yang menempati urutan kedua setelah Brazil. Selain itu Indonesia memiliki keragaman budaya nan khas di seluruh negeri, kerukunan umat beragamanya, budaya toleransi dan ketimuran melengkapi keajaiban Indonesia sebagai sebuah negara.

Potensi negara Indonesia tersebut tentunya membuat iri pihak-pihak tertentu yang memiliki agenda terselubung. Mengambil keuntungan akibat konflik pada negara lain dengan dalih investasi baru pada pihak yang bertikai. Sebagaimana konflik yang terjadi di daerah Timur Tengah dan negara di Afrika Utara, konflik terus berlanjut dan ada pemihakan terhadap tim yang bertikai. Alibinya kedamaian dunia dan pada akhirnya jual beli senjata dan pengolahan sumber daya minyak pasca konflik. Tidak ada bantuan negara yang mau bangkut dalam memberikan bantuan, jika tidak berusaha mencari keuntungan akibat terjadinya konflik yang terjadi.

Lalu bagaimana dengan Indonesia sendiri? Negara mana pun bukan hanya Indonesia potensi konflik yang dapat memicu masalah disintegrasi selalu ada. Khusus untuk Indonesia yang harus diwaspadai adalah potensi SARA (Suku Ras Agama dan Antargolongan) selain itu masalah terorisme di Tanah Papua dan dalih teorisme masalah agama/islam radikal.

Kondisi yang kekinian yang perlu diwasapadai yaitu masalah pembuangan bendera merah putih ke selokkan di depan Asrama mahasiswa Papua yang kemudian memicu demontrasi besar-besaran di Papua, lalu ada lagi pelaporan dai kondang Ustad Abdul Somad perihal ceramahnya yang diunggah di youtube terkait agama lain, unggahan itu terjadi 3 tahun yang lalu, ustad Abdul Somad menyampaikan ayat Al Quran tentang agama lain, pihak agama lain yang tidak suka dengan isinya melaporkan ke pihak kepolisian, dan masih ada potensi-potensi lain yang bisa memantik disintegrasi bangsa.

Seyogyanya semua pihak harus mewaspadai potensi-potensi pemicu konflik dan dapat memecah belah Indonesia. Secara kasat mata di Indonesia tidak pernah ada masalah perihal toleransi beragama. Semuanya harus dikembalikan kepada masalah hukum. Hukum harus ditegakkan dengan seadil-adilnya. Jika tidak, maka pemicu konflik tersebut akan terus bermunculan. Zaman now jangan pernah ada pemihakan kepada pihak-pihak tertentu, hanya karena dekat dengan penguasa atau mendapat dukungan tertentu. Jika salah yah salah, jangan sampai ada diskriminasi masalah hukum. Apabila ini dibiarkan akan berdampak luas dan dapat memicu konflik dan bisa berdampak pada disintegrasi.

Misalnya pada kasus insiden bendera di depan asrama mahasiswa asal Papua. Pihak kepolisian harus cepat menyelidiki kasus tersebut, tangkap pelakunya dan penjarakan supaya kasusnya tidak disalah tafsirkan kepermasalahan lainnya. Lalu kasus dai Ustad Abdul Somad, itu ranahnya menyampaikan ajaran Al Quran, itu ranah umat Islam. Mengapa agama lain mempermasalahkannya. Umat Islam juga tidak pernah mempermasalahkan agama mereka. Tidak semua pelaporan hukum juga ditindak lanjuti jika memang terkait hak dasar setiap umat beragama.

Zaman now zaman teknologi informasi 4.0 harus selalu waspada. Semua informasi harus diuji terlebih dahulu kebenarannya, jangan sampai informasi hoax menyebar di masyarakat di anggap sebagai berita benar. Pihak kepolisian juga harus cepat tanggap jika ada informasi hoax yang dapat memicu konfik dan bisa memecah belah bangsa. Jangan hanya menjelang pemilu saja, cepat menangkap penyebar hoax terkait paslon tertentu. Giliran negara Indonesia ini terancam karena ada potensi konflik karena hoax yang mengancam disintegrasi relatif lambat penangannnya.

Waspadalah terhadap pihak-pihak tertentu yang berupaya membuat Indonesia mengalami konflik sehingga dapat mengancam persatuan dan kesatuan Indonesia. Pengalaman pemberontakan pada masa perjuangan pasca kemerdekaan, konflik Aceh, peristiwa Mei 1998, dan kasus kerusuhan pengumuman pemenang pemilu 2019, sudahlah cukup begitu membuat luka bangsa Indonesia. Apakah bangsa Indonesia rela mengalami kembali konflik yang berpotensi memecah belah Indonesia. Tentunya tidak.

Mari kita bersatu padu menjaga lingkungan kita dari potensi-potensi konflik, jika ada informasi yang kebenarannya belum bisa dipastikan harus mampu menahan diri dan tidak mudah terpancing, percayakanlah kepada pihak berwenang semoga mereka masih bisa bersikap adil dan mampu menegakkan hukum dengan seadil-adilnya guna menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Aamiin.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Benar sekali Pak Mulya, harus selalu waspada untuk jaga kesatuan dan persatuan. Maaf Pak, kata pun di pisah Pak dalam kalimat mana pun. Maaf. Sukses selalu dan barakallahu fiik

23 Aug
Balas

Super sekali Pak. Saya tambahkan sedikit. "Sepertinya banyak pihak yang melupakan fakta bahwa antara tahun 1948-1965 negara ini begitu banyak mengalami ancaman disintegrasi bangsa. Terlepas dari pro dan kontra terhadap beragam pemberontakan tersebut, nyatanya sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara pada waktu itu tercabik-cabik. Seharusnya elit politik di negara ini menyadari ada yang belum tuntas dengan persoalan mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Demokrasi di negara ini belum berkembang seperti yang diharapkan. Masih sebatas jargon politik yang dikemas untuk meraih simpati masyarakat saat pemilihan umum dilaksanakan. Setelah itu masyarakat dibiarkan sendiri mencari makna demokrasi sesuai dengan pemahamannya. Mirip dengan kondisi di tahun 1948 sampai dengan 1965." Saya senang dengan tulisan Bapak.

23 Aug
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali