Mulya

Guru Geografi di MAN 2 Tangerang, Banten sejak tahun 2011 s.d sekarang. Aktivitas utama mendidik, selebihnya berkebun, menulis, berorganisasi, dan memancing....

Selengkapnya
Waspada Pencitraan Pada Ranah Politik?

Waspada Pencitraan Pada Ranah Politik?

Hidup banyak pilihan mengenai apa yang telah seseorang lakukan. Ada banyak penafsiran tentang publikasi apa yang telah dilakukan seperti sombong, memotivasi orang lain, laporan pertanggungjawaban, pencitraan, atau bahasa agamanya riya.

Kesemuanya kembali kepada niat setiap orang. Apa tujuan publikasi tersebut? Jika publikasi non politik tidak ada pencitraan karena murni promosi, publikasi, dan memotivasi/mensugesti orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Akan tetapi lain halnya dalam bidang politik. Publikasi yang paling kentara adalah menjelang pemilihan kepala desa, bupati/walikota, gubernur, presiden, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) /anggota Dewan Perwakilan Darah (DPD). Banyak sekali publikasi terutama capaian kinerja bagi petahana menjelang hari H pemilihan.

Lalu bagaimana dengan sikap seseorang terhadap sesuatu yang terindikasi sebagai pencitraan pada ranah politik? Menilai seseorang itu jangan parsial (hanya pada saat tertentu). Lakukan kajian komprehensif sejak sebelum menjabat, saat terpilih, dan setelah terpilih. Jika seseorang setelah terpilih lihat kiprahnya. Kemudian kiprahnya tersebut sebagai indikator jika mencalonkan kembali maka jika kiprahnya baik bisa dipilih kembali jika tidak abaikan/jangan dipilih.

Politik itu melakukan segala macam cara dalam rangka meraih kekuasaan. Kadang cara yang dilakukan tidak elegan. Menerabas nilai dan norma untuk menjaring suara sebanyak-banyaknya. Mereka menyebutkannya perjuangan politik. Bermilyar-milyar uang digelontorkan bagi calon berkantong tebal.

Lalu sebenarnya apa yang melatar belakangi seseorang terjun kedunia politik? Hanya diri calon dan Allah Swt yang mengetahui. Ada yang berniat menambah pundi-pundi kekayaan, mendapatkan penghargaan dan pengaruh, atau benar-benar untuk memperjuang kepentingan masyarakat. Semuanya sangat sulit diidentifikasi. Baru diketahui berdasarkan kiprahnya setelah terpilih/menjabat.

Bagi masyarakat awam waspada terhadap pencitraan. Jika salah memilih maka harus menunggu 5 tahun kedepan untuk mendapatkan perubahan lebih baik.

Jadi saat memilih pergunakan hati nurani dan kajian menyeluruh terhadap calon. Jangan sampai menjadi korban pencitraan semata. Maju atau tidaknya negara tergantung para politisinya yang menduduki jabatan. Apa motif mereka?

Ingat suara rakyat adalah suara Tuhan. Rakyat yang cerdaslah yang dapat menentukan negara ini kelak maju atau tidaknya. Melalui bilik suara perubahan itu bisa di mulai. Melalui hati nurani seseorang dalam memilih. Waspada pencitraan pada ranah politik.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Harus cerdas dalam pemilihan, sukses selalu dan barakallah

04 Nov
Balas

Setuju ibu. Ibu juga sukses selalu. Barakallah juga dengan ibu.

04 Nov

Merdekaa...

05 Nov
Balas

Iya bu merdeka juga. Semoga ibu sehat dan sukses selalu. Barakallah.

05 Nov

Jangan berjanji kalo tdk bisa menepati...atau seperti di lagu" Kau yg berjanji kau yg menginkari....sip pak, pilih sesuai nurani.

05 Nov
Balas

Iya bu. Kadang janji dianggap cara efektif buat mendulang banyak suara. Mereka tidak takut jika janji tidak ditepati ajab Allah sangat pedih. Sehat sukses selalu. Barakalah

05 Nov

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali