Mulya

Guru Geografi di MAN 2 Tangerang, Banten sejak tahun 2011 s.d sekarang. Aktivitas utama mendidik, selebihnya berkebun, menulis, berorganisasi, dan memancing....

Selengkapnya
Sang Pengoda (1)
evibong. blogspot.com

Sang Pengoda (1)

"Pasangan yang baik adalah pasangan yang tidak pernah melupakan pasangannya saat sedang susah maupun lapang, maafkanlah saat melakukan kesalahan karena manusia bukanlah malaikat"

Indri seorang ibu rumah tangga. Menikah dengan lelaki pujaan hatinya yang 7 tahun telah dipacarinya di organisasi kampus swasta di Jakarta.

Resepsi yang meriah dengan mengundang banyak teman kampus dan rekan-rekan di pekerjaan. Mereka hidup bahagia dan dikarunia dua anak.

Suami indri adalah pekerja keras. Bahkan untuk menafkahi keluarganya harus bekerja siang dan malam. Apalah daya setan mempengaruhi rumah tangga mereka. Cobaan Allah Swt berikan.

Melalu media sosial facebook Indri selaku istri suka mengupload foto selfienya dengan beragam gaya. Sehingga pada suatu ketika Indri membuka kotak pesan dan ternyata ada kiriman foto dari lelaki yang tidak dikenalnya.

"Salam kenal, foto kamu saya koleksi yach, habis suruh siapa cantik" kata lelaki yang menulis pesan dan mengirim kembali foto indri di kotak pesan. Indri pun membalas "siapa anda, ko bisa-bisanya mendownload foto saya tanpa izin". Lelaki itupun membalasnya "maaf kalau begitu, boleh dong kenalan".

Akhirnya berawal dari obrolan tersebut mereka sering mengobrol melalui kotak pesan. Menceritakan banyak hal. Berbagi perhatian. Kemudian beralih ke mesenger. Pada akhirnya berbagi nomor Whatapp.

Perkembangan teknologi media sosial semakin mempermudah komunikasi di antara mereka mulai berbagi foto, candaan, dan video call.

Indri lupa bahwa ada yang telah dikhianati cinta suaminya. Suaminya bekerja keras untuk kebutuhkan keluarga pun diabaikan. Uang pemberian suaminya digunakan untuk membeli paket data internet supaya Indri dan lelaki tersebut bisa berbagi cerita. Terkadang anak malah diabaikan.

Tidak jarang saat suaminya terlelap tidur, Indri asyik chat dengan lelaki itu yang sebelumnya telah janjian untuk chat saat jam-jam malam/dini hari.

Ketertarikan antarpersonal manusia dewasa tidaklah hanya seputar ini dan itu. Terkadang topik pembicaraan mengarah ke hal dewasa. Akhirnya terjadi perselingkuhan via media sosial.

Dalih indri adalah kesepian karena suami terlalu sibuk bekerja, itu dijadikan alibi saja, akan tetapi apakah itu dapat dibenarkan? Tentunya tidak.

LelakI itu pun ternyata sudah berkeluarga sama seperti indri telah berkeluarga. Seolah ada kedudukan yang sama. Sang lelaki sudah punya istri dan indri telah mempunyai suami. Sama-sama salah, yah nikmati kesalahan selevel.

Pada akhirnya suami Indri saat malam terbangun. Melihat istrinya tertidur dengan handphone di tangan. Entah apa yang mengerakkan suaminya untuk membuka pesan-pesan di media sosial istrinya yang tidak di terkunci.

Ibarat petir di siang hari bolongi. Suami indri membaca puluhan chat yang sengaja tidak di hapus. Mulai dari awal perkenalan sampai dengan chat terakhir. Darah suaminya bergolak. Amarahnya membuncah, mengetahui fakta bahwa istrinya selingkuh berawal dari media sosial.

"Astagfirallah" sang suami berjalan dengan tergontai, melihat anak-anaknya tertidur air matanya tak tertahankan lagi menetes, hatinya luluh.

Kemudian sang suami mendekati kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan menunaikan salat malam untuk meminta petunjuk kepada Yang Maha Kuasa.

"Ya Allah, ampuni dosa hamba, hamba tidak dapat menjaga istri berbuat keliru, Apakah ini adalah kelalaian hamba karena terlalu sibuk bekerja, Ya Allah, hamba tidak mau keluarga hamba hancur gara-gara sang pengoda, sadarkan istri hamba, supaya segera menyadari kesalahannya" .

Setelah bermunajat, suami Indri mendokumentasikan bukti percakapan dengan memotretnya dari awal sampai dengan akhir. Tujuannya saat ada waktu yang tepat ingin dibicarakan kepada istrinya perihal kedekatannya dengan lelaki tersebut di media sosial tersebut.

Hari terus berjalan. Sang suami bersikap biasa. Padahal hatinya begitu terluka. Kekhawatirannya adalah keutuhan keluarganya yang terancam.

Tibalah saatnya ketika sang suami melihat istrinya mengunakan handphone tersenyum sendiri. Seolah teramat ceria dan bahagia. Suaminya mendekat "ngobrol sama siapa mah, seru banget, Indri gelagapan "teman yah". Suaminya kembali bertanya" siapa temannya" istrinya terpojok "teman yah, masa ayah tidak percaya sama mama? " .

Kemudian suaminya menunjukan bukti foto-foto percakapan istrinya dengan lelaki sang pengoda. Jelaskan mengenai ini? Kemudian suaminya menanyakan kembali "mama boleh berteman sama siapa saja di media sosial, asalkan tahu batasannya, ada yang boleh dan ada yang tidak, setan akan berupaya melakukan berbagai macam cara supaya rumah tangga kita hancur".

Istrinya pun menangis mengakui kesalahannya dan berjanji tidak akan berkomunikasi dangan laki-laki sang pengoda itu. Suaminya pun memaafkan sambil berkata "iya, ayah maafkan" kemudian sang suami memeluk istrinya dan berkata"ayah akan berusaha menjadi suami dan ayah terbaik untuk istri dan anak-anak kita.

Keluarga tersebut akhirnya kembali hidup bahagia. Suaminya meluangkan banyak waktu bersama istri dan anak-anaknya. Sang istripun tidak lagi berkomunikasi dengan sang pengoda.

"Kesetiaan dan kepercayaan adalah segalanya dalam biduk rumah tangga, jaga dan peliharalah"

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Pesan moral nya oke banget

24 Jul
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali