Mulya

Guru Geografi di MAN 2 Tangerang, Banten sejak tahun 2011 s.d sekarang. Aktivitas utama mendidik, selebihnya berkebun, menulis, berorganisasi, dan memancing....

Selengkapnya
Profesionalisme Seorang Dokter Dipertanyakan?
segiempat.com

Profesionalisme Seorang Dokter Dipertanyakan?

Membaca tulisan ibu Rini Yuliati tentang kesalahan diagnosa dokter terhadap sakit putrinya. Putrinya telah dirawat seminggu dirumah sakit akan tetapi tidak kunjung sembuh. Sehingga saat ada pijit alternatif akhirnya sembuh juga. Pada hakekatnya Allah Swt yang menyembuhkan.

Berdasarkan peristiwa tersebut pernahkan gurusianer mengalami hal yang sama tentang diagnosa dokter yang keliru?

Jika saya ditanya berapa kali dokter salah diagnosa terhadap sakit anggota keluarga saya, saya katakan sering. Bahkan saya merasa ada ketidakpercayaan terhadap profesionalisme dokter.

Walaupun saya tidak menampikan ada dokter yang profesionalisme. Berikut ini beberapa peristiwa yang saya alami yaitu:

  1. Adik ketiga saya, saat demam panas dibawa ke dokter keluarga. Diberikan obat untuk tiga hari tetapi tidak sembuh juga. Kemudian dibawa lagi setelah tiga hari tidak sembuh pula. Diagnosa dokter adalah demam biasa. Kondisi adik sudah semakin mengkhawatirkan kemudian dibawa kerumahsakit diagnosa typus. Kemudian rawat jalan. Sampai akhirnya adik muntah darah, kembali dibawa ke dokter diagnosa menyakit tampek. Bintik merah tidak keluar. Tubuh kecil usia 6 tahun tidak kuat bertahan, Allah SWT lebih menyayanginya.
  2. Saat Istri akan melahirkan, sejak istri hamil saya sudah mewanti-wanti hanya memeriksa pada satu bidan/dokter. Hal tersebut bertujuan supaya rekam medisnya tercatat. Diputuskan memeriksanya ke RSUD di Jakarta Timur. Saat memeriksa dengan hari yang berbeda dokter spesialis kandungan yang menangani juga berbeda. Puncaknya saat menjelang kelahiran dari 4 dokter spesialis 3 menyatakan harus sesar 1 dokter mengatakan dapat lahir normal. Saat istri saya harus disesar saya tanyakan dasarnya apa? Mengapa ada dokter yang bisa normal? Sehingga pada saat itu saya diharuskan membuat surat pernyataan menarik diri dari RSUD, jika ada kejadian apapun pada pasien rumah sakit tidak bertanggungjawab. Sebelum surat saya buat istri sudah melahirkan secara normal. Sejak saat itu anak ke 2 dan ke 3 ditangani oleh dokter yang menyatakan anak pertama lahir normal.
  3. Saat anak ketiga, ketika istri sedang kontraksi tetapi intensitasnya masih jarang, saya ajak ke RS tempat biasa memeriksa. Kata istri belum saatnya. Saya khawatir, akhirnya dibawa keklinik takut bayi terlilit tali pusar atau posisi bayi salah. Pada klinik tersebut ada USG tiga dimensi. Setelah di USG, kata dokter jenis kelamin laki-laki. Padahal kami rutin USG pada bulan ke 4,7, dan 9. Kata dokter langganan kami perempuan. Bahkan si dokter klinik menawarkan untuk lahiran ditempatnya. Saya hanya tersenyum dalam hati saya berujar "dokter peramal nih ngawur".Akhirnya kami pulang. Saat pukul 23.00 istri mules saat dibawa ke RS baru 20 menit diruang persalinan sudah melahirkan normal dengan jenis kelamin perempuan.
  4. Almarhum ibu, mengalami sakit. Keluhan vertigo dan jika mata buka seolah bumi berputar. Saat berobat ke klinik kata dokter darah tinggi dan diabetes. Diberikan obat tidak sembuh. Kemudian dibawa kerumah sakit katanya jantung koroner karena tidak ada alatnya untuk perawatan dirujuk kerumah sakit lain yang peralatanya lebih lengkap setelah di observasi dilakukan hasilnya diabetes. Sampai akhirnya Allah lebih sayang sama ibu karena tubuhnya tidak lagi kuat menahan pengobatan medis. Diagnosa atas sakitnya selalu berbeda.

Entah apa yang harus dilakukan seorang dokter supaya tepat mendiagnosa jenis penyakit. supaya saat mengobati tepat pada sumber penyakit. Secara logika maka sakit akan sembuh karena penangannya yang tepat.

Bagi kami yang memiliki keluarga yang sakit. Keluarga kami adalah orang paling berharga sehingga diikhtiarkan maksimal untuk disembuhkan.

Harapan kami dokter dapat memperlakukan keluarga kami seolah keluarganya sendiri. Diperiksa dengan akurat, dilakukan tindakan medis maksimal, dan sembuh. Jika kesembuhan tidak diperoleh kami ikhlas sebagai suatu takdir.

Akan tetapi jika salah diagnosa seolah keluarga kami sebagai kelinci percobaan. Periksa ini dan itu. Observasi ini dan itu. Semua tindakan medis yang dilakukan kami membayarnya. Akan tetapi hasilnya salah diagnosa.

Kesehatan itu sangat penting. Sehingga menjaga kesehatan itu jauh lebih penting. Melakukan kegiatan olahraga yang rutin. Mengkonsumsi makanan empat sehat lima disempurnakan. Istirahat yang cukup. Sehat pikiran dan jasmani. Melaksanakan ibadah kepada Allah dan sesama manusia. Serta memohon kesehatan melalui lantunan doa kepada sang pencipta.

Ternyata mencegah lebih murah dibandingkan sakit. Apalagi saat sakit ada potensi salah diagnosa. Bukannya sembuh sakit bisa lebih lama. Semoga tidak terjadi lagi terjadi pada diri dan kekuarga kita. Aamiin.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Kesalahan diagnosis pada pasien oleh dokter memang sering terjadi. Salah satunya anak murid saya. Kesalahan diagnosa dan pemberian obat yg salah akhirnya berujung kelumpuhan. Tulisan Pak Mulya bagus, mhn maaf mungkin bisa diedit sedikit pd kisahk no 2. Kalimat "istri sdh lahir secara normal. Mungkin maksudnya istri sdh melahirkan secara normal" Di poin yg sama kalimat terakhir"anak pertama saya bisa lahir melahirkan"

09 Oct
Balas

wah makasih bunda, terimakasih atas masukannya

09 Oct

Yah begitulah, ini membuktikan bila dokter adalah manusia, tempatnya salah dan khilaf. Barakallah

09 Oct
Balas

sifat manusiawi

09 Oct

Begitulah Pak Mulya fenomena yang sering terjadi dan manusia hanya berusaha sedangkan Allah yang merencanakan...Barakallah....

09 Oct
Balas

iya bunda, semoga kita sehat selalu

09 Oct

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali