Mulya

Guru Geografi di MAN 2 Tangerang, Banten sejak tahun 2011 s.d sekarang. Aktivitas utama mendidik, selebihnya berkebun, menulis, berorganisasi, dan memancing....

Selengkapnya
Pelangi Cinta (Cinta Ala Anak SD -1)
kumparannews.blogspot.com

Pelangi Cinta (Cinta Ala Anak SD -1)

Suasana kampung setiap pagi sarat dengan aktivitas warganya. Ada warga yang menuntun kerbau sambil membawa bajak menuju persawahan. Ada juga ibu -ibu kampung memberikan makan ternak ayamnya dengan sisa makanan semalam.

Siswa/i Sekolah Dasar(SD) di kampung beramai-ramai berjalan kaki menuju sekolah yang berada di tengah kampung. Sekolah yang hanya satu-satunya. Semua warga kampung usia SD bersekolah di sana. Tidak ada taman kanak-kanak, warga kampung langsung masuk SD untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung.

Siswa/i SD bertemu disekolah, sebagai tempat bermain sekaligus belajar. Mereka mengunakan seragam putih merah, terkadang seragam yang lecek dan sarat noda tanah yang tidak hilang. Kadang ada siswa yang tidak menggunakan alas kaki atau hanya menggunakan alas kaki.

Ada seorang siswa kampung namanya Ahmad Mulyani, teman SD nya sering memanggilnya Uya. Uya merupakan siswa kategori biasa-biasa saja. Cenderung pendiam dan pemalu.

Saat SD berbeda dengan level pendidikan yang lebih tinggi. Saat ada siswa/i sekolah bersama dari kelas 1 s.d 6 ada rasa kebersamaan yang terbentuk. Muncul berbagai rasa diantarajya adalah cinta monyet.

Perasaan cinta monyet di SD hanya sebatas versi anak-anak. Cara yang dilakukan adalah pengakuan. Misalnya Budi mengakui Ajeng adalah pacarnya atau bahkan ledek-ledekan Jihan pacar Agus. Itulah dunia siswa SD.

Begitulahnya Uya, siswa usia SD lainnya dikampung sering jua mengaku-akui teman perempuannya di sekolah sebagai pacarnya.

Saat di kelas, siswa laki-laki dan perempuan disatukan. Ada seorang siswi namanya Yayah. Siswi kembang kampung. Semua siswa laki-laki SD mengatakan hal sama bahwa Yayah itu cantik. Semua siswa laki-laki seolah mengakui sebagai pacarnya.

Termasuk juga Uya, juga menyukai Yayah. Setiap pagi selalu mengintip tirai jendela. Melihat Yayah berangkat ke sekotirai

Uya selalu berharap dirinya berangkat bersama dengan Yayah ke sekolah sambil bercengkrama. Melihat Yayah saja sudah bahagia, apalagi dapat berjalan bersama dengan gadis pujaanya, andaikan tidak bercengramapun tidaklah masalah, asalkan bersama Yayah gadis yang disukainya.

Pada suatu kesempatan, Uya memberanikan diri untuk bercengrama dengam gadis pujaanya "Yah, PR bu guru sudah belum?" Yayah menjawab "Allhamdulillah sudah, ya" sahut Uya "bagus kalau begitu", Yah setelah lulus SD mau melanjutkan kemana? " Yayah menjawab "Insyaallah pesantren" . Uya terdiam dan merenung andaikan bisa ikut serta untuk memperjuangkan rasa tersebut untuk memilih pesantrean, "ah sudahlah buang saja rasa itu" lagian belum ada jaminan dapat menjadikan Yayah sebagai pacar. "Oh.. selamat deh, semoga menjadi ustadajah" jawab Uya. Yayah kemudian tersenyum dan bertanya kembali, "Kalau Uya mau melanjutkan kemana? ". Uya menatap Yayah" SMP negeri". Kemudian ada bu guru masuk kelas pembicaraan pun terhenti.

Waktu terus berjalan, akhirnya ujian nasional SD pun dilangsungkan, semua siswa lulusan bercerai berai melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya ada yang Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Pesantren.

Cinta Uya pun berakhir sebagai cinta monyet. Rasa itupun hilang karena tidak lagi bersekolah bareng Yayah sebagai gadis pujaan hatinya. Cintanya hanya sebagai rasa suka tanpa alasan. Sebatas kamuplase mata. Melihat kecantikan kemudian menyukainya. Cintanya hanya sebatas tatapan mata.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bukan pengalaman pribadi ya Pak?

26 Jun
Balas

Haha... dunia anak memang indah dan melegenda pak. Tidak ada yang tersakiti karena merupakan wujud persahabatan sejati. Semoga hal itu tidak tercemari dengan budaya percintaan terkini yang kadang pergaulannya melampaui batas usia anak. Wah, cemat sekali pengamatan pak guru kepada muridnya hingga ke soal cinta monyet.

25 Jun
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali