Mulya

Guru Geografi di MAN 2 Tangerang, Banten sejak tahun 2011 s.d sekarang. Aktivitas utama mendidik, selebihnya berkebun, menulis, berorganisasi, dan memancing....

Selengkapnya
Pekerjaan Rumah (PR) Siswa versi Guru dan Orang Tua
Idealnya PR menjadi efektif buat pembelajaran. Sumber: http://kodaiiqfa.blogspot.com

Pekerjaan Rumah (PR) Siswa versi Guru dan Orang Tua

Memiliki tiga orang putri usia sekolah Madrasah Ibtidaiyah/sekolah dasar sesuatu banget. Anak pertama kelas 5, anak kedua kelas 2, dan yang bontot kelas 1. Kebiasaan mengantar anak ke sekolah sudah menjadi rutinitas. Saat pulang mengajar ketika bertemu anak terbiasa menanyakan segala aktivitas disekolah, proses belajar, kejadian-kejadian selama belajar, dan menanyakan apakah ada PR atau tidak.

Saya guru istri juga guru faham betul dengan konsep PR. Terkadang banyak hal yang diluar nalar seorang pendidik saat siswa MI diberikan PR oleh gurunya di madrasah.

Saya sangat memakluminya karena guru MI mengunakan konsep guru kelas, adapun guru bidang studi hanya bahasa Arab, bahasa Inggris, dan olahraga. Guru kelas MI adalah guru multitalenta. Harus mampu mengajar semua mata pelajaran. Apabila guru kelas tidak profesional maka efeknya banyak terhadap peserta didik.

Konsep PR yang diberikan kepada ketiga putri saya seharusnya bisa ditinjau ulang oleh guru yang bersangkutan sebelum dan setelah memberikan PR. Di evaluasi secara kontinyu untuk proses pembelajaran lebih baik. Berikut ini yang perlu ditinjau ulang oleh setiap guru kelas sebelum memberikan PR. Hal ini juga tidak dapat digeneralisasi kan sifatnya hanya kasuistik saja diantaranya yaitu:

  1. Menugaskan membaca kemudian diminta untuk mengerjakan soal tanpa dijelaskan cara mengerjakan soal untuk konsep matematika. Siswa membutuhkan guide bagaimana cara mengerjakan soal. Para orangtua harus menjelaskan ulang materi apabila keduaorang guru tidak masalah bagaimana dengan para orangtua yang lain.
  2. Tidak menilai PR yang sudah dikerjakan siswa, padahal penilaian dapat mengevaluasi apakah siswa telah menguasai kompetensi atau belum. Penilaian dapat memotivasi siswa untuk terus meningkatkan semangat belajar.
  3. Menugaskan PR mengerjakannya menggunakan internet, tidak semua siswa MI secara mandiri mampu menggunakan internet untuk mencari materi atau gambar untuk tugas. Hendaknya ini juga dipertimbangkan. Siswa tidak dapat belajar arti kemandirian, pada akhirnya orangtuanya harus turun tangan.
  4. Mengkoreksi jawaban PR keliru, wajar sebagai manusia biasa, setidaknya seorang guru MI harus benar-benar memastikan jawabannya benar. Kebiasaan saya saat anak selesai mengerjakan PR saya cek, kalau salah dibetulkan, setelah pulang sekolah saya bertanya bagaimana anak apakah dinilai gurunya atau tidak, saat dinilai ada yang disalahkan, saya cek lagi bahkan saya bawa ke guru matematika rekan mengajar beliau juara 3 olimpiade Nasional guru, jawabannya sudah benar tapi di salahkan. Fatal mengajarkan konsep keliru.
  5. Memberikan tugas diluar kemampuan siswa, hal ini menyebabkan siswa meminta bantuan kepada orangtuanya untuk menyelesaikan tugasnya. Ada pertanyaan anak yang sekolah atau orangtuanya.
  6. Memberikan informasi kepada siswa saat mengerjakan PR dan fungsi posisi orangtua dirumah. Hal tersebut perlu dilakukan sehingga tidak ada kasus perkataan gurunya dianggap lebih benar dibanding kedua orangtuanya tidak. Ini penting supaya mencari jawaban/membuktikan kebenaran bisa dilakukan dari mana saja.

Manusia memang tidak ada yang sempurna begitu juga guru MI. Saya juga selaku orangtuanya murid merasa bukanlah manusia sempurna.

Setidaknya kita terus berupaya melakukan hal yang benar apakah pendidik atau sebagai orangtua.

Andaikan keliru segeralah berbenah diri. Guru juga manusia ada kekurangan. Orangtua juga manusia tempatnya salah.

Akan tetapi apabila kita terus memperbaiki diri guru dan orangtua akan ada hubungan sinergi untuk proses pendidikan terbaik untuk siswa dan anak kami.Semuanya bisa dilakukan lebih baik. Proses pendidikan dapat berjalan dengan lebih baik. Sehingga tujuan pendidikan tercapai, siswa mencapai kompetensi sikap spritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Mari sama-sama saling mengingatkan dan terus berupaya untuk menjadi lebih baik. Baarokallah...Pak.

11 Feb
Balas

Iya Bu, mendidik bersama, guru di sekolah dan orangtua dirumah

11 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali