Mulya

Guru Geografi di MAN 2 Tangerang, Banten sejak tahun 2011 s.d sekarang. Aktivitas utama mendidik, selebihnya berkebun, menulis, berorganisasi, dan memancing....

Selengkapnya

Mungkinkah Kemacetan Teratasi?

Sore ini saya menuju Jakarta karena ada acara dari keluarga besar istri, terkait resepsi pernikahan anaknya paman. Berangkat selepas finger print pukul 16.00 wib.

Istri dan anak-anak menunggu diterminal Balaraja, Tangerang. Kebetulan lokasi tempat kerja relatif dekat dengan lokasi terminal. Transportasi yang dipilih adalah angkutan umum. Setelah memparkir si jalu ditempat penitipan, kamipun naik mini bus menuju Terminal Grogol, Jakarta Barat.

Jl Tol Kebun Jeruk yang kita lewati padat merayap. Sesampainya grogol kemudian menunaikan salat magrib dan melanjutkan perjalanan naik Bus Transjakarta jurusan Grogol - Pusat Grosir Cililitan (PGC). Walaupun bus transjakarta memiliki jalur khusus, tetap saja banyak motor dan kendaraan pribadi yang masuk jalur busway. Itulah Indonesia, jika tidak ada petugas, pasti melanggar aturan.

Jika pernah ke ibu kota, siapa yang tidak mengenal Jl Gatot Subroto. Jalan terpadat transportasinya terutama jam berangkat kerja dan pulang kerja. Bus transjakarta ternyata belum bisa mengatasi kemacetan. Berbagai upaya terus dilakukan seperti pembuatan MRT, LRT, bahkan subway.

Saya malah agak menyangsikan masalah kemacetan dapat teratasi. Permasalahannya adalah tidak ada batasan kepemilikkan jumlah kendaraan pribadi. Jika seseorang membeli mobil seukuran 2x 3 meter persegi. Maka sebesar itu pula kemacetan akan bertambah. Jumlah kendaraan tidak sebanding dengan jumlah pertambahan jalan. Sehingga apakah kemacetan bisa teratasi? Perlu strategi jitu untuk mengatasi kemacetan tersebut.

Saya perkirakan masalah yang sama dihadapi kota lain di Indonesia akan tetapi tidak sekomplek Jakarta selaku Ibu Kota Negara. Jika salah satu indikatornya ada bertambahnya jumlah kendaraan. Apakah pemerintah berani mengambil kebijakan tidak populis membatasi kepemilikkan kendaraan perorangan atau suatu usaha?

Berbahagialah bagi seseorang yang tidak tinggal di daerah macet. Tidak terbayang lelahnya berjam-jam diperjalanan. Sekarang saja saat menulis, tulisan ini masih diperjalanan belum sampai tujuan. Padahal waktu tempuh sudah 4,5 jam. Ambil saja hikmahnya, macet lahirkan tulisan ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Hadew saya bisa merasakan bagaimana penatnya perjalanan bapak dan keluarga yang 4,5 jam lamanya. Saya saja dari hotel Haris ke Soeta juga 1 jam lebih padahal jaraknya lumayan deket. Jakarta macetnya bukan main. Semoga segera ada solusi. Barakallah pak Mulya, sehat, semangat dan sukses selalu.

08 Mar
Balas

Iya bu Rita, kondisinya demikian. Maklum rumah keluarga istri ada di Ujung Timur Jakarta, berbatasan dengan Bogor. Terima kasih atas apresiasi dan doanya. Sehat, bahagia, dan sukses selalu buat Ibu Rita

09 Mar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali