Mulya

Guru Geografi di MAN 2 Tangerang, Banten sejak tahun 2011 s.d sekarang. Aktivitas utama mendidik, selebihnya berkebun, menulis, berorganisasi, dan memancing....

Selengkapnya

Menulis Tanpa Editing Mustahil

Memasuki dunia penulisan suka atau tidak suka harus belajar tentang semua hal yang berkaitan dengan genre tulisan yang digeluti secara fokus misalnya Chairil Anwar, WS Rendra, Taufik Ismail terkenal dengan penulis Puisi, Penulis Novel Asma Nadia, dan lain sebagainya.

Kemudian mediaguru menjembatani para guru disela-sela kesibukannya mendidik untuk mau menulis buku. Kemudian muncul kelas menulis bagi guru yang disebut sagusagu.

Prosesnya ternyata para guru sangat antusias menulis. Pemahaman awal adalah memotivasi bagaimana guru mau menulis, menulis, dan penulis. Ternyata naskah sangat membludak editor terbatas. Maka dibukalah kelas editor. Melalui kelas editor lahirkan para edpara mediaguru dimana syaratnya harus sudah menulis buku. Kini para penulis sekaligus editor mediaguru menjadi pembicara pada kelas menulis mediaguru.

Kondisi tersebut membuktikan bahwa menulis mengharuskan diedit sebelum ditebitkan menjadi buku. Saya juga alumnus sagusabu dan kelas editor.

Lalu gurusiana sebagai blog guru disediakan sebagai ajang latihan menulis guru, publikasi tulisan, atau dokumentasi tulisan menjelang diterbitkan oleh gurusianer bersangkutan. Tulisan yang didokumentaskkan di gurusiana perlu sentuhan akhir sebelum dicetak menjadi naskah buku siap cetak

Naskah jika mau lebih bak maka perlu sentuhan editor. Editor bertugas mengedit dalam tata kalimat dan bahasa tanpa mengubah isi tulisan. Ide utama milik penulis. Ibaratnya editor jasa reparasi/perbaikan naskah.

Lalu apakah ada gurusianer tanpa mengedit langsung mengupload tulisanya? Saya yakin tidak ada, andaikan ada maka tulisan saat dibaca banyak terdapat kata yang diulang, kalimat terlalu panjang, makna kalimat tidak jelas. Sehingga para pembaca di gurusiana tidak dapat menangkap isi tulisan.

He.. He..tulisan saya yang paling berantakan. Saya menulis pada handphone ukuran hanya 5,5 inchi. Saat mengetik pada keyboard handphone. Jari tangan lebih besar dari ukuran huruf. Sangat sering terpencet huruf yang berdekatan dengan huruf yang akan digunakan. Belum lagi ada istilah "tipo" saat kursor ditempatkan pada huruf yang akan diperbaiki akan muncul kata yang sebelumnya diketik. Itu perihal teknis pengetikan, belum lagi pemilihan diksi dan puebi.

Setelahnya juga harus dibaca berulang-ulang sehingga dapat menemukan kesalahan kata maupun kalimat, atau isi tulisan yang belum dapat difahami oleh pembaca.

Mau menulis silahkan menulis saja. Akan tetapi untuk menghasilkan tulisan terbaik, maka lakukan pengeditan, sekali edit, dua kali edit, tiga kali edit, dan seterusnya. Semakin banyak setuhan edit maka semakin baik tulisan kita. Tidak percaya lakukan saja dan lihat hasil tulisannya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Sudah membuktikan Pak. Memang betul sekali. Setiap Kali menulis saya sempatkan untuk mengedit. 2 atau 3 kali. Tulisan yang sudah mengendap beberapa saat begitu dibaca lagi akan ketahuan kalau ada yang janggal. Disitulah peran edit. Tapi ga pakai 'Kadila' hehe..maaf Bu Edit..saya bawa bawa..ampun..

06 Oct
Balas

Iya pak, kita masih belajar mengedit, kalau bunda edit kardila jagonya edit

09 Oct

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali