Mulya

Guru Geografi di MAN 2 Tangerang, Banten sejak tahun 2011 s.d sekarang. Aktivitas utama mendidik, selebihnya berkebun, menulis, berorganisasi, dan memancing....

Selengkapnya
Komunitas yang Menjadikan Sekolah/Madrasah Sebagai Rumah Kedua

Komunitas yang Menjadikan Sekolah/Madrasah Sebagai Rumah Kedua

Sekolah sebagai lembaga pendidikan dipersepsikan berbeda oleh warganya seperti oleh setiap siswa, tenaga pendidik, negara kependidikan, pejabat sekolah/madrasah, maupun orangtua/wali murid.

Siswa adalah unsur penting disekolah. Sekolah tanpa siswa bukanlah sekolah. Apabila diamati niat siswa ke sekolah/berbeda-beda. Sebagian besar mereka untuk belajar dan mendapatkan pendidikan/keilmuan.

Akan tetapi praktiknya adanya siswa yang bolos mata pelajaran, dari rumah berangkat kesekolah tetapi tidak sampai ke sekolah, atau ada siswa alasan ke kamar mandi, keperpustakaan, yang sebenarnya mereka mencari alasan untuk menghindari suatu pembelajaran.

Apabila ditanya siswa-siswa tersebut ketika tertangkap tim kedisiplinan alasannya beragama karena tidak suka dengan mata pelajarannya tertentu, karena gurunya, bahkan belum mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR), dan lain sebagainya.

Sedangkan untuk tenaga kependidikan, karena mereka struktural disekolah/madrasah hanya mengerjakan berkas keadministrasiannya. Selebihnya mereka bersantai dengan dalil tupoksi sudah terselesaikan. Selain itu ada petugas kebersihan, tukang kebun, maupun satpam sudah jelas tugasnya masing-masing.

Begitu juga dengan tenaga pendidik atau guru. Selain mengajar beberapa guru juga memiliki tugas tambahan ada sebagian wali kelas, pembina OSIS/MPK, kepala laboratorium, kepala perpustakaan, wakil kepala, bahwa kepala madrasah/kepala sekolah. Mengerjakan tupoksinya masing-masing.

Semuanya berjalan normal datang dan pulang sesuai dengan jam kerja. Akan tetapi ada beberapa tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang menjadikan sekolah/madrasah sebagai rumah kedua. Walaupun tidak banyak. Bahkan komunitasnya tidak selalu ada di setiap sekolah/madrasah.

Komunitas ini memanfaatkan fasilitas sekolah/madrasah seperti dapur ruang guru untuk memasak nasi bahkan menggoreng lauk pauk untuk kepentingan makan. Bahkan merebus mie sekalipun.Tentunya dilakukan setelah jam belajar selesai.

Mereka terkadang ada lemburan pulang sampai lewat magrib/isya bahkan apabila dipandang perlu mandi dan menginap di sekolah/madrasah. Tipe mereka menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas pantang bawa pulang pekerjaan.

Meja kerjanya super lengkap. Ada meja berkontak yang isinya segala kebutuhan seperti perlengkapan mandi, handuk, baju ganti, semuanya tersedia.

Komunitas ini menjadikan sekolah/sebagai rumah kedua. Keberadaan mereka diketahui oleh pimpinan. Mereka termasuk Ting teng sekolah/madrasah. Mereka tim gerakan bawah tanah untuk keberhasilan sekolah atau madrasah. Bagaimanakah madrasah/sekolah para gurusianer, apakah ada komunitas tersebut?

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali