Mulya

Guru Geografi di MAN 2 Tangerang, Banten sejak tahun 2011 s.d sekarang. Aktivitas utama mendidik, selebihnya berkebun, menulis, berorganisasi, dan memancing....

Selengkapnya
Kegagalan Proses Pendidikan di Keluarga
hello sehat. com

Kegagalan Proses Pendidikan di Keluarga

Pendidikan yang utama berawal dari keluarga. Akan tetapi pola pendidikan keluarga berawal dari kebiasaan mendidik secara turun temurun dari kedua orangtua sebelumnya.

Akan berubah jika orangtua melakukan perubahan pola pikir dalam mendidikan berdasarkan keilmuan mendidik dalam khasanah ilmu pengetahuan pendidikan keluarga.

Jika pola pendidikannya benar maka akan menghasilkan anak yang baik dan berkualitas. Pola pendidikan yang benar dilakukan secara intensif oleh para orangtua sejak dalam kandungan sampai dengan dewasa. Anak akan menjadi mandiri dengan karakter diri yang baik dan kualitas diri yang mumpuni untuk menjadi manusia terbaik.

Justru ketika ada kegagalan proses mendidik dikeluarga, pola pendidikan yang keliru maka anak sebagai hasil didikan para orangtua akan jauh melenceng dari harapan. Melakukan tindakan yang diluar harapan.

Lalu kegagalan proses pendidikan dikeluarga itu seperti apa? Berikut ini pola pendidikan keluarga yang keliru yaitu:

  1. Memanjakan anak, kegagalan proses pendidikan dikeluarga adalah memanjakan anak. Mengapa ini dilakukan oleh sebagian orangtua? Banyak dasarnya mulai dari rasa sayang berlebihan karena anak tunggal, anak perempuan satu-satunya, anak laki-laki tunggal, anak satu-satunya karena suami/istri meninggal atau bahkan ditinggal bercerai/menikah lagi, dimanja karena keduaorangnya adalah orang yang berkecukupan dalam hal finansial. Orangtua tidak menyadari bahwa selama ini proses pendidikannya keliru. Anak akan tumbuh dalam ketidak berdayaan karena selalu dipenuhi keinginannya tanpa harus bekerja keras untuk mendapatkannya. Buah dari pendidikan memanjakan anak adalah saat orangtua telah tiada. Anak akan kesulitan hidup mandiri karena orang yang memanjakan telah tidak ada. Anak akan adaptasi dalam hidup yang sifatnya negatif.
  2. Pola pendidikan yang keras secara fisik, cara mendidik model ini, jika anak dianggap melakukan kesalahan orangtua tidak segan-segan untuk memukul anak. Anak yang terbiasa dipukul maka akan melakukan hal yang sama kepada orang lain di luar keluarga. Terburuk malah ada anak dengan pola pendidikan ini ketakutan untuk berbuat sesuatu karena jika salah maka akan dipukul. Anak akan merasa tertekan saat harus mengambil keputusan dalam hidup. Sehingga saat memiliki permasalahan hidup ada tuntutan jangan pernah salah supaya tidak dipukul. Anak merasa tertekan. Pada akhirnya akan mudah putus asa. Paling fatal adalah menjadikan bunuh diri sebagai sebuah cara mengakhiri hidup.
  3. Mendidik dengan membandingkan, setiap anak sebenarnya khas. Anak memiliki potensi yang berbeda satu sama lain. Bayangkan jika anak selalu dibandingkan bahwa dirinya harus lebih baik dari orang lain. Anak akan merasa tidak berguna. Anak tidak diakomodir bahwa potensinya diabaikan karena kacamata kesuksesan selalu dilihat dari keberhasilan orang lain.
  4. Memberikan uang secara berlebih, anak saat memiliki uang berlebih bisa membeli apapun, bersifat boros, dan bisa merendahkan oranglain karena uang. Bisa saja anak terjerumus melakukan hal negatif karena uangnya seperti narkoba, minuman keras, dan penyimpangan sosial lainnya.

Tidak ada orangtua manapun yang menginginkan anaknya gagal dalam hidup. Orangtua ingin anak-anaknya sukses dunia dan akhirat. Menjadi anak soleh dan solehan. Sanggup mengarungi hidup di dunia yang keras saat kedua orangtuanya telah tiada.

Orangtua beranggapan bahwa anak adalah sebuah titipan yang pencipta. Berusaha maksimal dalam mendidik sehingga anak bisa menjadi generasi penerus keluarga.

Harapan-harapan orangtua yang mulia tersebut harus diwujudnya dengan cara yang benar dan tepat. Semoga kita ssbagai orangtua tidak melakukan proses pendidikan yang salah. Sehingga terhindar dari kegagalan proses pendidikan dikeluarga.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali