Mulya

Guru Geografi di MAN 2 Tangerang, Banten sejak tahun 2011 s.d sekarang. Aktivitas utama mendidik, selebihnya berkebun, menulis, berorganisasi, fotografi, dan me...

Selengkapnya
Hemat vs Pelit
kabarIndonesia

Hemat vs Pelit

Setiap manusia memiliki banyak kebutuhan dalam hidup. Apakah kebutuhan materi maupun nonmateri. Zaman old dahulu kebutuhan manusia dipenuhi dengan cara berburu dan meramu (mengumpulkan bahan makanan dari alam), kemudian mencoba menetap dan akhirnya bermata pencaran bercocok tanam dan berternak. Sejak saat itu muncul konsep barter (tukar satu jenis barang dengan barang yang lain), walaupun pada saat itu kesulitan dalam hal kesetaraan barang.

Lalu penjajah Eropa datang dan mengenalkan konsep uang. Baik uang kertas maupun uang logam. Pecahan uang terkecil sampai dengan paling besar saat ini mencapai angka Rp. 100.000.- .

Ada dampak positif ada pula dampak negatifnya uang. Dampak positifnya memudahkan melakukan transaksi jual beli dan dampak negatif ada yang menimbun uang sehingga memunculkan budaya pelit.

Pelit berbeda dengan hemat. Pelit merupakan menimbun kekayaan untuk dirinya sendiri dan kebanggaan bahwa seseorang senang memiliki banyak uang. Tidak ingin uang yang dimilikinya berkurang bahkan maunya terus bertambah. Itu terus dilakukan seolah uang adalah segalanya. Uang seolah tuhan barunya.

Lalu bagaimana dengan hemat. Sangat berbeda hemat dengan kulit. Hemat adalah orang yang mempunyai uang dimana dengan uang yang dimilikinya berupaya memenuhi semua kebutuhannya secara proporsional.

Mengunakan uang sesuai kebutuhan bukan berdasarkan keinginan semata. Apalagi bernafsu dalam hal konsumerisme. Orang yang berhemat selalu menyiapkan buku/kertas yang ditulis terlebih dahulu, barang apa yang benar-benar dibutuhkan dan akan dibeli, setelah itu mengecek harga barang, dan membawa uang sejumlah barang yang akan dibeli.

Ayo, gurusianer pelit atau hemat? Apa jangan-jangan boros. Boros itu saat ada uang, habiskan. Masalah kebutuhan lainnya, uang bisa dicari dengan cara apapun. Bila perlu berhutang. Asalkan saat butuh ada uang.

Yang pasti hidup itu suka atau tidak suka harus cerdas dalam penggunaan uang. Perhitungannya yaitu gaji dikurangi kebutuhan rutin, sisanya di tabung untuk dana jaga-jaga jika ada kebutuhan mendadak.

Lalu bagaimana jika mendapatkan penghasilan atau bonus? Tabungkan saja. Saat tabungan sudah gendut bisa membeli kebutuhan sekunder atau tersier. Bahwa bisa juga memenuhi kebutuhan wisata mininal 1 bulan sekali.

Selalu bijak dalam mengunakan uang. Gunakan uang dengan bijak. Jangan lupa sisihkan 2,5 % untuk orang yang benar-benar membutuhkan atau kegiatan sosial lainnya. Uang tidak dibawa mati, tetapi uang dapat membawa seseorang ke Surga asalkan dimanfaatkan dengan bijak, bertanggung jawab, serta memenenuhi kebutuhan sosial keagamaan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Keren. Makasih telah berbagi tips

08 Apr
Balas

Iya ibu Noerhayati. Terima kasih atas apresiasinya. Sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah buat ibu Noerhayati

09 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali