Mulya

Guru Geografi di MAN 2 Tangerang, Banten sejak tahun 2011 s.d sekarang. Aktivitas utama mendidik, selebihnya berkebun, menulis, berorganisasi, fotografi, dan me...

Selengkapnya
Catatan Seorang Pendidik
www. idntime. com

Catatan Seorang Pendidik " Aku Ingin Sekolah Ayah dan Ibu?"

Aku seorang pendidik yang pernah mengajar di salah satu sekolah Islam swasta di Jakarta Pusat. Sejak menjadi pengajar pihak yayasan telah menyampaikan bahwa siswa yang bersekolah ada 4 kategori yaitu siswa yatim, siswa yatim piatu, siswa tidak mampu, dan siswa anak jamaah majlis taklim yang sama-sama dikelola oleh yayasan.

Saya ingat betul saat gajian, sekolah selalu minus sehingga yayasan sering menambah kekurangan gaji untuk pegawainya. Hal tersebut sering dialami bahkan hampir setiap bulan. Walaupun ada dana BOS untuk operasional bulannya saja masih kurang mencukupi.

Hal yang membuat saya salut, setiap guru sejak awal bergabung sudah ditanyakan komitmennya untuk mengajar dan mengembangkan jiwa sosial sebagai pendidik di yayasan tersebut. Bahkan saya tahu betul saat sekolah butuh pegawai. Kemudian dilakukan wawancara banyak calon guru yang menolak karena bayarannya dianggap kurang. Sehingga guru-guru yang mengajar di sekolah orang-orang yang memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Saat kami menjadi pendidik di sekolah tersebut banyak sekali catatan kasus yang kami alami dengan kondisi siswa yatim, yatim piatu, dan siswa yang tidak mampu. Saya akan coba tuangkan ke dalam cerpen dalam kasus catatan pendidik.

Panggil saja namanya Dini. Siswi kelas IX. Dini merupaka siswa berprestasi di kelas. Dini kategori siswa yang tidak mampu. Dini sekolah 100% dibiayai yayasan. Cita-citanya adalah ingin menjadi guru seperti bapak/gurunya yang selama ini mengajarnya dari kelas VII s.d IX.

Sampai pada suatu ketika. Dini tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Kemudian oleh wali kelasnya Ibu Mae ditanyakan kepada teman dekatnya sendiri perihal alasan tidak masuknya Dini. Berdasarkan informasi temannya bahwa Dini tidak sekolah karena harus menjaga adiknya yang baru dilahirkan. Kami selaku guru berpikir sehari tidak masuk, sangat dimaklum akan tetapi ternyata tidak masuknya Dini lebih dari 3 hari.

Pihak Guru Bimbingan Konseling (BK) akhirnya membuat surat panggilan perihal tidak masuknya Dini. Orang tua Dini akhirnya datang memenuhi panggilan pihak sekolah. Kemudian diterima langsung oleh Ibu Azizah selaku guru BK.

Sungguh mengejutkan, berdasarkan info dari Ibu Azizah "Dini dilarang sekolah, karena harus menunggu adiknya. Pihak sekolah mencoba memberikan solusi, mencari/menyediakan jasa pengasuh bayi supaya Dini tetap supaya bisa sekolah. Bahkan yayasan bersedia membayar jasa pengasuh. Orang tua Dini tetap menolak. Bahwa menurut pernyataanya 100% anak adalah hak orang tua. Apapun yang dilakukan orangtua itu adalah kewenangan. Pihak sekolah adalah pihak luar.

Bahkan disampaikan pula bahwa Dini adalah siswi berprestasi, posisinya sudah kelas IX tinggal ujian. Tetap saja orangtuanya tidak bergeming. Akhir pihak sekolah tidak dapat mengubah keputusan orangtua Dini. Mereka tetap berpegang teguh pada keputusannya.

Selang tiga hari setelah kedatangan orang tua Dini. Saat sore ketika semua siswa sudah pulang. Kebetulan para guru belum pulang. Dini datang ke sekolah dengan membawa tas sekolah. Masuk ke ruang guru. Tangis pun pecah, sambil terisak-isak menangis, dini tertunduk dengan air mata yang bercucuran. "Ibu, Bapak guru Dini, mau sekolah, Dini mau ujian, Dini ingin mencapai cita-cita Dini untuk menjadi guru, izinkan Dini tinggal di sekolah, tidur di kelas juga tidak apa-apa, nanti Dini bantuin ngepel, apa saja supaya Dini bisa tetap sekolah? " Dini menunjukan bahwa isi tasnya adalah buku-buku dan pakaian seragam dan pakaian gantinya.

Semua guru yang ada meneteskan air mata. Ibu Azizah selalu guru BK menghampiri dan mengusap air mata Dini. Kemudian tubuh Dini dipeluknya. Sambil berkata "Ridho anak ada pada ridho orang tua, patuhlah kepada mereka, insyaallah kelak Allah akan berikan kehidupan terbaik untuk mu nak"ucap ibu Azizah. Akhirnya Dini setelah diberikan pemahaman mengurungkan niatnya kabur dari rumah untuk tinggal di sekolah.

Sekolah tidak ingin ada konflik dengan pihak orang tua. Pada dasarnya yang lebih berhak adalah kedua orang tuanya. Semenjak peristiwa tersebut Dini dinyatakan keluar atas kehendak orangtuanya. Pihak yayasan dan sekolah sangat menyayangkan tapi mau bagaimana lagi.

Semoga saja kasus tersebut tidak akan pernah terjadi lagi dilingkungan pendidikan. Akar masalahnya adalah pemahaman tingkat pendidikan, masalah ekonomi, dan masalah tingginya angka kelahiran. Tapi apakah adil beban hidup orangtua dibebankan pada anak.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Ya Allah Pak, saya saya terenyuh. Miris banget, masih saja ada orang tua yang seperti itu. Sukses selalu dan barakallah fiik

10 Mar
Balas

Iya bu Pipi, saya sampai seolah tidak percaya. Orangtua sekeras batu. Tidak bergeming. Semoga saja anak itu sekarang menjadi orang sukses

11 Mar

Terima kasih atas apresiasinya. Sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah

11 Mar

Hebat pak

11 Mar
Balas

Ah.. Masa sih, apanya yang hebat????

11 Mar
search