Mulya

Guru Geografi di MAN 2 Tangerang, Banten sejak tahun 2011 s.d sekarang. Aktivitas utama mendidik, selebihnya berkebun, menulis, berorganisasi, dan memancing....

Selengkapnya
Biarkan Suamiku Menikah Lagi
Meta blog

Biarkan Suamiku Menikah Lagi

Membaca tulisan gurusianer Ibu Rini Yuliati tentang Sejujurnya Aku Tidak Rela Berbagi Suami Dengannya, tulisan tersebut merupakan respon terhadap tulisan saya sebelumnya. Saya teringat kehidupan nenek saya yaitu Hj. Muryati (Alm). Semoga Allah Swt lapangkan kuburnya dan ditempatkan di Surga-Nya.

Beliau merupakan Istri pertama kakek H. Soleman (Alm) memiliki 6 orang putra termasuk bapak saya. Kakek dahulu semasa hidupnya adalah seorang Jawara di Banten. Menguasai berbagai ilmu pencaksilat dan kebathinan.

Pada masanya banyak para orang kaya terutama komunitas Cina dan orang yang kaya lainnya meminta perlindungan supaya aman dari Jawara lain yang berniat jahat. Kakek saya termasuk Jawara yang sangat disegani di wilayah kabupaten Tangerang pada saat itu.

Kakek saya tidak mematok harga atas jasa pengamanan yang diberikannya. Biasanya sebagai rasa terimakasih kakek diberikan sebidang tanah/uang/tempat berdagang. Sehingga pada saat itu kakek terkenal memiliki banyak kekayaan hasil jasa pengamanannya.

Sekabupaten Tangerang hampir semuanya mengenal kakek. Pada masa tuanya kakek justru tambah religius. Bergaul dengan para ulama besar Banten jika ada kegiatan keagamaan maka para ulama besar Banten akan hadir untuk memenuhi undangan kakek.

Kakek bahkan memberangkatkan nenek dan semua anak lelakinya serta saudar kandungnya untuk berangkat haji bersama hasil penjualan tanah. Sebelumnya secara sendiri kakek sudah beberapa kali pergi haji.

Sebagai bentuk tanggungjawab sebagai suami setiap anaknya diberikan sebidang tanah dan dibangunkan rumah. Selain itu kakek juga mengangkat anak. Anak angkatnya diperlakukan sama seperti anak kandung, diberikan tanah dan dibangunkan rumah.

Semasa hidup saya dekat dengan nenek dan sering mengobrol dengan beliau perihal kakek yang menikah lagi dengan beberapa perempuan.

Saat saya tanya "Kenapa nek, kakek diizinkan menikah lagi?" Jawab nenek "tidak apa-apa kakek saat itu menikah lagi, asalkan bertanggungjawab dengan nenek dan ke 6 putranya" saya kembali bertanya "Nenek tidak cemburu? " jawab nenek "tidaklah biarkan saja, kalau nenek hidup ikhlas saja dan tidak mau menjadi beban pikiran, nenek fokuskan saja ibadah, itu sudah membuat nenek tenang dalam hidup" saya penasaran kemudian bertanya lagi "nek kakek izin waktu itu mau menikah lagi? "Sahut nenek "iya izin, yach sudah nenek izinkan".

Sepengetahuan saya walaupun kakek melakukan poligami ada hal-hal yang beliau perhatikan yaitu istri mudanya mau menerima istri pertama dengan 6 putra, istri mudahnya tidak/belum memiliki anak, kakek selalu menperhatikan istri pertama, anak-anaknya, bahkan cucu-cucunya.

Para Istri mudanya juga sama diberikan tanah dan dibangunkan rumah. Sebagai bentuk tanggung jawab seorang suami.

Saya masih mengingat, jika kakek pagi datang kerumah nenek menanyakan kabar dan keadaan anak-anaknya. Bahkan saat ketemu cucu-cucunya tidak segan-segan memberikan uang jajan. Seolah anak-anaknya dan cucunya diabsen satu-persatu, serta ditanyakan kabarnya, dan segala aktivitasnya, dan diberikan nasehat.

Sampai masa akhir hidup kakek dan nenek serta para istri mudanya semuanya hidup dengan rukun tanpa ada konflik sedikitpun. Jika semuanya dilakukan dengan benar, adil, dan bertanggungjawab.

Dasar poligami tidak selalu hawa nafsu. Poligami dapat menjadi solusi dari pada berbuat zina. Poligami diperbolehkan dalam Islam jika bisa adil dan tidak memicu adanya konflik karena dijalankan secara baik.

Ada kejujuran dan tanggung jawab. Ada keikhkasan dan kepatuhan mengatas namakan agama. Kesemua itu tidaklah mudah dilakukan oleh seorang suami atau istri jika tidak memiliki kematangan hidup dalam tingkat kereligius yang mumpuni.

Semoga Allah Swt lapangkan alam kubur kakek, nenek, dan para istri mudanya, dijadikan alam kuburnya taman surga, diampuni kehilafannya, dan kelak di tempatkan di Surga-Nya. Aamiin.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Ikhlas dan ibadah, sungguh suatu yang sangat sulit, luar biasa untuk nenek Pak Mulya... Keikhlasan beliau membawa berkah bagi keluarga besar

11 Oct
Balas

Iya bunda, bahkan karena keikhlasannya beliau adalah orang terakhir dijemput ke haribaan ilahi

11 Oct

Wah cerita pak guru nih bisa masuk dlm buku saya terkait aspek sosiologis. Benar psk guru, itu sekelumit cerita poligami yg dijalankan secara benar sesuai aturan syariah, tetapi banyak di luar sana, terjadi seperti yg diceritakan bu Rini, maka bunda Raihana mencari jalannya dg serahkan pd Sang Maha Bijaksana. Semuanya ada dlm buku sy. Barakallah

11 Oct
Balas

Itulah realita dilapangan, perbedaan sudut pandang, ada yang positif dan negatif. Semuanya kembali ke rasa pada setiap orang dalam memaknainya. Saya setuju dengan Bunda Raihana Rasyid.

11 Oct

Subhanallah...nenek Pak Mulya termasuk wanita yang hebat dengan rasa perempuannya....Barakallah...

11 Oct
Balas

Alhamdulliah

11 Oct

Waduh..

11 Oct
Balas

Apanya yang sakit bunda

11 Oct

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali