Mulya

Guru Geografi di MAN 2 Tangerang, Banten sejak tahun 2011 s.d sekarang. Aktivitas utama mendidik, selebihnya berkebun, menulis, berorganisasi, fotografi, dan me...

Selengkapnya
Sekolah Negeri Tidak Dapat Memilih Siswa, Mengapa dan Apa Dampaknya?
https://id.herstyleasia.com

Sekolah Negeri Tidak Dapat Memilih Siswa, Mengapa dan Apa Dampaknya?

Sebelum zonasi diterapkan, para orangtua/walimurid akan mendaftarkan putra/i ke sekolah terbaik. Prioritas utama yang dipilih sekolah negeri unggulan/favorit. Jika tidak diterima akan memilih sekolah negeri reguler. Andaikan masih tidak diterima akan mendaftarkan putra/inya ke sekolah swasta yang dianggap terbaik oleh orangtua/walimurid.

Saat diterapkan sistem zonasi. Konsep yang selama ini dilakukan para orangtua/walimurid harus diabaikan karena terbentur zonasi. Sekolah unggulan/favorit dan nonunggulan dihilangkan dengan adanya zonasi. Pendaftaran sekolah negeri dilakukan secara serentak dan daring. Alhasil sekolah negeri hanya menerima jumlah siswa mayoritas terdekat disamping kuota jalur prestasi dan luar zonasi yang dibatasi.

Saat masa penerimaan peserta didik baru (PPDB) selesai, maka siswa yang tidak diterima akan kebingungan memilih sekolah setelah gagal pada sistem zonasi.

Pada kondisi ini, artinya sekolah tidak dapat memilih siswa. Sekolah negeri harus menerima siswa hasil sistem zonasi secara daring. Seperti apapun kondisi siswanya harus disambut dengan suka cita oleh sekolah negeri. Logikanya jika ada 3 SMP negeri sedangkan hanya ada 1 SMA negeri maka, siswa kelas X SMA tersebut dari sebagian besar dari ketiga SMP tersebut dengan jarak terdekat. Jalur prestasi dan luar zonasi jumlahnya sangat kecil. Hal tersebut membuktikan bahwa sekolah negeri tidak dapat memilih siswa.

Lalu bagaimana dengan sekolah swasta? Sekolah swasta akhirnya bisa memilih siswa. Menentukan siswa yang bagaimana yang akan diterima. Apakah indikatornya prestasi akademik dan nonakademik, mampu membayar biaya sekolah, dan mampu menyumbang untuk pembangunan. Walaupun ada dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) tetap ada upaya untuk mengadakan pungutan atas nama biaya pendidikan. Sebatas semua biaya bisa dipertanggungjawabkan secara akuntabel dan orangtua bersedia, semuanya seolah benar. Akan tetapi setiap ada peluang sekecil apapun pasti selalu ada kecendrungan untuk memperkaya diri sendiri atau pemilik sekolah swasta yang bersangkutan.

Saat sekolah negeri tidak bisa memilih siswa, ini menjadi tantangan bagi guru-guru sekolah negeri yang umumnya guru Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bersertifikasi. Menjadikan siswa yang biasa menjadi siswa yang luar biasa. Itu bukanlah hal mudah. Faktanya apa? Jika indikatornya juara kelas, juara umum, juara Olimpiade Sains Nasional (OSN) siswanya itu lagi, itu lagi selama masa studi di sekolah yang berprestasi.

Bisakah guru negeri menjadikan siswa yang diajar /dididik semuanya berprestasi? Konsep yang dikedepankan adalah semua siswa potensial, tinggal menggali dan mengembangkannya saja siswa yang bersangkutan. Hal itu tidaklah mudah, karena guru ASN juga dibebani kewajiban-kewajiban lain selain tugas utamanya mendidik.

Saat sekolah negeri tidak bisa memilih siswa, ini menjadi menarik untuk diketahui beberapa tahun kedepannya. Saat sekolah swasta atau madrasah di kementerian agama masih bisa memilih siswa, sedankan sekolah negeri tidak. Bisa nanti dikomparasikan. Mana yang akan lebih baik.

Sekolah-sekolah swasta elit dan madrasah model/unggulan/favorit/pondok pesantren modern bisa mengadakan seleksi siswa tingkat kabupaten, provinsi, nasional, bahkan internasional. Siswa yang masuk adalah siswa-siswa terbaik dengan sistem seleksi yang konsepnya sudah teruji karena digunakan secara bertahun-tahun. Ada kekhawatiran sekolah negeri yang menggunakan sistem zonasi tidak dapat bersaing secara akademik. Mudah-mudahan saja tidak demikian, tetapi tetap menciptakan kompetisi yang kompetitif secara seimbang.

Jika sudut pandangnya adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dalam bidang pendidikan ini sangat mulia. Semua penduduk usia sekolah berhak mendapatkan pendidikan di sekolah negeri

Jika kuantitas sekolahnya kurang, maka pemerintah kota/kabupaten/provinsi bisa menambah bangunan sekolah sesuai kebutuhan masyarakatnya tentunya selalu memperhatikan kesamaan kualitas sarana dan prasrana serta tenaga pendidiknya.

Semoga dunia pendidikan di Indonesia kedepannya bisa lebih baik. Menjadikan masyarakat Indonesia kualitasnya sejajar dengan negara-negara maju di dunia. Aamiin.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Pemaparan yang luar biasa. Menjadi tantangan bagi semua guru agar bisa menjadi lebih baik memajukan pendidikan bangsa.

07 Jul
Balas

Iya bunda. Guru dianggap mampu mendidik siswa/i menjadi lebih baik. Itu sebuah tantangan yang harus guru jawab dengan tidakan nyata. Terima kasih atas apresiasinya. Sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah

07 Jul

Kebijakan ini baru bisa dilihat dampaknya 5 tahun lagi. Itupun kalau masih diterapkan secara kontinyu.

07 Jul
Balas

Iya sepakat. Kadang jika satu kebijakan dinilai gagal, kadang tidak perlu nunggu bertahun-tahun akan segera dievaluasi Lain halnya jika dianggap berhasil akan kontinue. Itupun jika menterinya masih sama. Saat ganti menteri juga kadang ganti kebijakan. Terima kasih atas apresiasinya. Sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah

07 Jul

Bagi sekolah negeri, sebebarnya merupakan start ulang. Dalam artian dengan input yang sangat heterogen, sekolah-sekolah negeri dipaksa untuk menstel ulang lagi mesin-mesinnya. Bagitu mas Mulya. Barakallah.

07 Jul
Balas

Setuju pak. Mencari cara baru dalam mengolah siswa yang sesuai kadarnya masing-masing. Biasa menjadi istimewa itu sungguh luar biasa. Terima kasih atas aprsiasinya. Sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah

07 Jul

Sepakat.. luar biasa

07 Jul
Balas

Sip pak, terima kasih atas apresiasinya. Sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah

07 Jul

Kita tunggu saja seperti apa akhirnya, semoga yang terbaik. Sukses selalu dan barakallahu fiik

07 Jul
Balas

Aamiin. Waktu akan menjawab semuanya. Terima kasih atas doa dan apresiasinya. Sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah

07 Jul
search