Mulya

Guru Geografi di MAN 2 Tangerang, Banten sejak tahun 2011 s.d sekarang. Aktivitas utama mendidik, selebihnya berkebun, menulis, berorganisasi, dan memancing....

Selengkapnya
Apakah Anak Anda Mudah Menyerah?
klubwanita. com

Apakah Anak Anda Mudah Menyerah?

Sepulang dari bekerja sesampainya di rumah. Hal yang telah menjadi suatu kebiasaan yaitu berkumpul dan berdiskusi bersama anggota keluarga. Istri ku tercinta dan ketiga putri ku. Si sulung Zahra (12 tahun), yang tengah Nafisa (9 tahun), dan si bungsu (7 tahun). Putri ku bersekolah di tempat yang sama di MIN.

Apa yang didiskusikan? Seputar aktivitas keluarga sejak berpisah dengan ayahnya ketika ditinggal bekerja. Biasanya saya sebagai kepala keluarga bertanya kepada anak-anak tentang aktivitas keseharian saat tanpa ayahnya.

Ketiga putri ku pun bercerita satu persatu dan aku berusaha menjadi pendengar yang baik. Jika ada hal yang keliru mencoba meluruskan. Ibunya mendampingi ku dan meminta membantu menjawab/merespon cerita-cerita mereka.

Putri kedua ku saat ini sedang direpotkan dengan pembelajaran matematika. "Ayah, aku ada PR, aku belum mengerti" katanya. "Coba sini ka, ayah lihat dahulu" kata ku. Setelah aku lihat ternyata sistem pembagian ratusan dengan pembagi satuan.

Maklum kami keluarga guru, aku dan istri juga mengajar. Istri juga di rumah membuka les privat untuk anak-anak sekolah disekitar rumah secara cuma-cuma dan ada papan whiteboard terpampang. Yah sudah saya manfaatkan papan tulis tersebut untuk menjelaskannya kepada putri kedua saya. Ternyata si bungsu dan si cikal turut serta.

Mengajar ketiga putri ku kebanyakan gagal karena mereka lebih percaya sama gurunya. Meyakinkan bahwa apa yang kita sampaikan ekstra dasar teori supaya mereka yakin benar.

Mulailah saya menjelaskan materi pembagian ratusan dengan pembagi satuan. Sudah coba dijelaskan fakta, konsep, dan prosedurnya.

Ternyata putri saya menangis dan mengatakan tidak mengerti dan susah memahaminya. Saya coba memotivasi untuk tidak mudah menyerah. Saya sempat berpikir apa saya tidak bisa mengajar matematika dengan baik dan benar.

He..he.. Sarjana pendidikan geografi ngajar matematika masuk kategori mal praktik. Tapi saya berkeyakinan andaikan saya mengalami kesulitan mengajar matematika untuk putri saya, pasti saya akan belajar kepada teman sejawat para sarjana matematika.

Saya juga berpikir dengan keras. Sebagai guru pada level pendidikan sekolah menengah atas/madrasah aliyah bertanya bagaimanakah seharusnya guru pada level sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah mengajar kepada siswa didiknya? Sehingga ketidaktahuan tidak harus dibawa oleh siswa ke rumah.

Mengajar pada level sekolah dasar kelas 3 seharusnya bisa menemukan metode lebih mudah dapat difahami siswa. Penerapannya pada soal yang lebih rumit adalah pilihan bukan suatu kewajiban.

Sistem pembagian pada matematika saya lebih suka penerapan tentang konsep pembagian pada kehidupan nyata. Misalnya si Andi membeli jeruk 2 kg berjumlah 30 buah. Jeruk tersebut dibawa kesekolah dan akan dibagikan kepada temannya yang berjumlah 15 siswa termasuk Andi. Berapakah masing-masing teman Andi mendapatkan buah jeruk termasuk Andi sendiri?Perhitungannya jauh lebih nyata.

Saya memiliki tiga putri kecendrungannya ketiganya berbeda dalam hal mata pelajaran. Anak pertama misalnya cendrung menyukai pembelajaran mengambar, materi keterampilan, dan komputer. Si bungsu lebih cenderung ke bahasa. Nah putri yang kedua ini tipenya perfeksionis. Semua mata pelajaran maunya mendapatkan nilai sempurna.

Sebagai orangtua kami tidak pernah memaksakan untuk menjadi yang terbaik. Ternyata sejak kelas 1 dan 2 selalu menjadi juara pertama. Lebih-lebih jika ulangan selalu menunjukan nilai 100 menjadi kebiasaanya.

Kekhawatiran saya adalah putri ketiga ini tidak mau menerima kegagalan. Berbagai upaya sudah dilakukan ssperti halnya menunjukan bahwa setiap manusia berbeda dan pasti memiliki kekurangan. Kekurangan adalah sebuah kewajaran. Manusia hanya dapat berikhtiar maksimal. Jika telah berusaha maksimal kemudian kita belum berhasil itu adalah kehendak Allah Swt. Ingat satu hal saat ikhtiar maksimal "jangan pernah menyerah dan mengatakan tidak bisa, semua hal dalam hidup tidak ada yang tidak bisa diselesaikan. Yang ada adalah kita belum mengetahui cara menyelesaikannya"

Apakah anak saya mengerti? Ternyata menangis lebih keras. Wah menjadi guru sekolah dasar ternyata luar biasa dalam penanganan psykologi pada peserta didik. Ini saja saya mengajar hanya seorang siswa yang notabene putri sendiri. Bagaimana jika guru sekolah dasar harus mengajar 36 siswa dikelas dengan beragama sikap dan perilakunya. Pasti jauh lebih waw.

"Wahai putri ku, bersabarlah, semoga seiring waktu ananda dapat memahami bahwa hidup adalah proses panjang. Manusia tidak ada yang sempurna. Jangan pernah menyerah pada keadaan. Semoga kelak saat ayah dan bunda tidak lagi bersama ananda, ananda dapat menjadi manusia mandiri, berilmu, solehah, dan memberikan manfaat bagi semua orang". Aamiin.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Subhanallah....perasaan yang dituangkan oleh seorang ayah yang sangat mencintai putranya....

06 Sep
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali